Sabtu, 23 April 2016

KKN 2016 : Belajar Bertamu Dari Kadus 70 Tahun

AbdRosyid.com | Agenda hari ini yaitu mengunjungi seluruh Kepala Dusun (KADUS) Di tempat aku Kuliyah Kerja Nyata (KKN) yaitu di Desa Mangar Kecamatan Tlanakan Kabupaten Pamekasan, kita semua berencana untuk mengunjungi tempat Kadus tersebut dari jarang yang paling jauh dari tempat kami berdiam selama KKN berlangsung, yaitu di kediaman Kepala Desa Manggar.

Setelah semuanya selesai sholat duhur kami berencana untuk berangkat, menyusuri setiap jalan kampung tersebut, tidak jarang kami bertemu dengan warga setempat yang sedang melaksanakan aktifitasnya, kami semua melangkahkan kaki meskipun seakan kaki ini tidak mau bergerak, seakan mengajak kembali ketempat keberangkatan tadi.


Mentari yang bersinar dengan jernihnya menerangi perjalanan kami pada saat itu, terkadang teman-teman menggerutu dengan situasi yang sangat melelahkan ini. Akan tetapi kita semua tetap melangkah semangat demi bersilatur rahmi dengan semua tokok masyarakat di Desa Mangar ini.

Diperjalanan kami sering bercanda gurau demi menghilangkan rasa capek yang sedari tadi melanda perjalan ini, mulai dari paving hingga bebatuan kami pijak, ada sebagian teman-teman yang berteduh di bawah pepohonan yang melambaikan rantingnya kejalan yang kami lewati, hanya demi mengurangi rasa capek yang kami rasakan.

Setelah satu jam kami diperjalan akhirnya kami semua sampailah di sebuah rumah yang lumayan bagus, disana nampak dua rumah berjejer dan sebuah mosolla yang melambangkan tempat beribadah dari keluarga ini, di depan rumahnya tertanam sebuah pohon asam yang sudah besar dan tinggi kira-kira umurnya sudah sekitar 35-40 tahun.


Dengan lembut kami mengucapkan salam di depan rumah tersebut, keluarlah seorang wanita paruh baya dan membalas jawab kami, dan saya sebagai pimpinan dari kelompok ini menanyakan apakah benar ini merupakan rumah kepala dusun?, dengan sopan wanita itu mengiyakan pertanyaan saya tadi, dan langsung menyuruh kita semua untuk duduk di mosolla yang bersih dan indah itu, setelah kami duduk wanita itu berpamitan sebentar. Mungkin dia ingin memanggil kepala dusunnya.

Setelah beberapa saat keluarlah seorang laki-laki dari rumah tersebut, dan langsung menyapa kami yang sedari tadi sudah berada di mosolla, dengan sopan kami semua bersalaman dengannya, dan saya mulai menanyakan apakah bapak ini kepala dusunnya atau bukan? dengan sopan laki-laki itu menjawab bahwa dia bukan kepala dusunnya, karena saya mengutarakan ingin bertemu dengan kepala dusunnya lalu dipanggilah.

Dalam hati saya bergumam, bahwa kepala dusunnya adalah seorang laki-laki yang masih berumuran sekitar 25-40 tahun. Akan tetapi kami semua terkejut setelah keluarnya sorang kakek yang berumur sekitar 70 tahunan, dan langsung menyapa dan menyalami kami semua yang dari tadi sudah menunggunya.


Dengan mengenakan sarung kotak-kotak dan kaos cokelat ditambah dengan kopyah hitam, melambangkan kakek ini adalah seorang yang di tokohkan di dusun tersebut, dia langsung bergabung dengan kami semua tanpa rasa sungkan.

Saya memulai dengan menyampaikan maksud dan tujuan kami semua, dan memperkenalkan diri masing. Setelah kami saling memperkenalkan diri satu persatu maka saya langsung menanyakan kebiasan yang dilakukan dari  masyarakat di dusun ini.

Dengan pelan kepala dusun yang kebetulan bernama Bpk. menjelaskan secar rinci kegiatan dan kebiasaan yang dilakukan oleh masyarakat sekitar, hingga kami diberikan nasehat tentang cara bertamu ke masyarakat di sekitar dusun ini.

Menurut penjelasan dari kepala dusun tersebut bahwa masyarakat di dusun ini sangat mencurigai orang-orang baru yang datang ke dusun ini, sehingga kami semua disarankan untuk tidak bertamu di malam hari, kecuali bersama masyarakat di dusun itu, dan juga kami segera untuk memperkenalkan diri kesmua masyarakat, dan apabila kami berkunjung disiang hari di usahakan untuk tidak menggunakan sepeda moto, ini bertujuan biar diperjalan bisa mengenal masyarakat yang sedang beraktifitas sehingga kami semua bisa cepat di kenal.

Panjang lebar kepala dusun itu menjelaskan dan terkadang ada nasehat untuk anak muda jaman sekarang untuk lebih mengenal masyarakat, apalagi di tempat yang baru kami pijak seperti dusun ini.

Oya hampir lupa ternyata dusun ini namanya Dusun Gulaan, dan ini merupakan dusun terjauh dari Desa Mangar, yang terletak sekitar 5 Kilo meter dari rumah Kepala Desa Mangar, ya lumayan bagi kami semua yang mengunjungi dusun ini dengan berjalan kaki.

Kami semua larut dalam pembicaraan yang sangat santai dan sopan ini, hingga kami lupa bahwa sudah hampir dua jam kami berada di tempat itu, dan saya langsung pamit untuk kembali ketempat kami semua berangkat, mengingat jara tempuhnya lumayan jauh, dan jalan yang kami lalui berluku dan bebatuan.


Setelah pamitan kami semua meninggalkan tempat itu, dan kami semua melanjutkanperjalan dengan memutar, kami sepakat untuk tidak melewati jalan waktu berangkat tadi, mengingat kami semua orang baru dan haru lebih dekat dengan masyarakat di desa ini, sehingga jalan memutar kami ambil meskipun jaraknya hampir sama dengan jalan keberangkatan tadi.

Dengan melewati ladang cabe dan ladang tembakau kami melangkah pasti, jalan yang berliku dan berbatu tidak menyurutkan semangat saya dan teman-teman. Setelah sekitar dua jam berjalan, akhirnya kami melihat jalan luruh yang sudah di aspal dan di ujung jalan tersebut terlihat sebuah bangunan yang tidak lain itu adalah tempat kami berdiam yaitu rumah Kepala Desa Mangar. 

Rasa senang menyelimuti saya dan teman-teman karena perjalanan yang sangat melelahkan akan segera berakhir, dan penuh rasa gembira kami semakin semangat melangkahkan kaki untuk cepat sampai kerumah itu. sehingga kami semua bisa istirahat untuk mengilangkan rasa capek yang menyelimuti. Ini baru awal perjalan saya dan teman-teman, nantikan cerita perjalan kami selanjutnya yang mungkin lebih capek dari hari ini.

2 comments

keren tuh, jadi teringat masa-masa KKN dulu

hahaha... KKN lagi saja mas

Berkomentarlah dengan baik, buktikan kalau kamu orang yang bisa berbicara dengan baik.
EmoticonEmoticon